Tidak banyak yang mengerti maupun paham dengan jalan pikiran saya, but then again, siapa sih yang benar-benar mengerti dan paham jalan pikiran orang lain, at the end of the daycuma Allah yang bisa intip pikiran seseorang. Anyway, hari ini dengan bangga harus saya umumkan bahwa: teknologi telah mengecewakan saya.

Kemarin dengan suksesnya hand phone saya ngehang, itu bukan suatu masalah besar, jika saja setelah saya mengeluarkan baterai dari HP saya, HP itu lantas bisa menyala lagi, sayangnya pada kasus ini setelah dicopot baterainya, HP saya tetap mati, ia hanya bisa mengeluarkan cahaya abu-abu muda pada layarnya, and thats the end of my cell phone, which at that time seemed like the end of me.

Tentunya saya ini lebay dan tidak mungkin juga setelah kematian cell phone saya, saya mati. maksudnya, itu tadi semua Hypothetically aja.. anyway: tentunya boleh lah saya mengharap miracle datang dari langit sehingga keesokan harinya misalnya mungkin aja atas kehendak Allah yang maha kuasa si HP menyala lagi, begitu kan? Sayangnya, sepertinya teknologi dan Allah juga tidak bersahabat baik, sehingga doa saya tidak dikabulkan.. jadi keesokan harinya saya harus menelan buah kecewa lagi karena HP saya tetap bernasib sama seperti sehari sebelumnya: mati tak berdaya.

Lalu saya bergegas kuliah, HP boleh mati, tapi hidup berjalan terus bukan. Walau dengan ketiadaan HP saya jadi merasa seperti ada bagian dari diri saya hilang, tapi well toh saya masih punya semua anggota tubuh lain yang saya butuhkan jadi: ya sudahlah ya… Jalani harimu tanpa HP Asih!!

Hari tanpa HP itu menjadi sangat tidak efektif, kenapa? karena kemampuan komunikasi dengan manusia yang tidak berada dalam radius 200 m dari saya menjadi sulit, saya tidak bisa reschedule rapat, tidak bisa konfirmasi kehadiran rapat, tidak bisa menghubungi orang untuk datang cepat ke rapat (dan semua hal lain yang dibutuhkan untuk kelangsungan rapat).

tapi hari berjalan terus.

Sore harinya, akhirnya saya ditemani pacar pergi ke BEC, suatu pusat elektronik di Bandung untuk mencari tahu apakah sebenarnya masalah HP saya, karena saya butuh diagnosis pasti dari para ahli untuk mengetahui apakah HP saya hanya mati suri atau mati beneran.

tentunya HP saya cuma mati suri.

sekarang pertanyaan selanjutnya adalah: kenapa HP ini mati suri, seperti layaknya detektif-detektif swasta di komik Conan mereka semua mengungkapkan teori yang sama: HP saya rusak Software-nya. kenapa mereka bisa mengambil kesimpulan seperti ini? karena layar HP saya hanya bisa menyala abu-abu jika saya nyalakan, lalu untuk mematikan HP saya tersebut, saya mesti melepas baterainya. Dari kasus ini para ahli mengambil kesimpulan bahwa tidak mungkin Hardwarenya rusak, ataupun tidak mungkin juga jika LCD-nya rusak, karena jika terjadi kerusakan LCD, mestinya saya bisa mematikan HP tersebut tanpa melepas baterai. begitu kata ahlinya.

Sebenarnya kerusakan HP saya ini mestinya tidak terlalu menghawatirkan saya terutama setelah para ahli mengeluarkan estimasi biaya perbaikan yang katanya bisa mencapai 150rb rupiah, karena angka tersebut tidak terasa begitu mahal dibanding jika saya harus membeli HP lain (walau dengan status HP Second sekalipun).

Concern utama saya justru terletak pada prosedur perbaikan HP saya, menurut para ahli, perbaikan hanya bisa dilakukan dengan merelakan semua data-data yang tidak di back up oleh saya, dimana salah satunya, termasuk nomor Contact. Kehilangan nomor Contact itu rasanya seperti bunuh diri saja bagi saya. Bukan karena saya tidak bisa menghubungi teman-teman saya, tapi karena di HP saya itu terdapat banyak nomor orang-orang penting bagi kegiatan pencarian Sponsorship bagi kegiatan kemahasiswaan yang saya jalankan, ini merupakan tanggung jawab saya.  Without those numbers, i have nothing.

Kekecewaan terbesar karena kehilangan ini murni disebabkan oleh kelalaian saya sendiri yang malas bergaul dengan teknologi, malas rasanya untuk sapa-sapa dengan teknologi untuk back up atau untuk mensave data-data saya. dan lihatlah kemana kemalasan ini membawa saya.

Kegagalan teknologi ini merupakan kegagalan saya, namun perlajaran yang dapat di tarik darinya tentunya menjadi sangat berharga: back up-lah selagi masih bisa mem-back up, jangan tunda-tunda back upbecause you never know when technology will fail you, and when it does, you dont want to know how it feels.

Maka jadikanlah kegagalan saya sebagai pelajaran bagi anda. sekian terima kasih.