Tadi pas kuliah Kapsel, dosen saya, namanya Bu Sophie(kayanya) menceritakan tentang program di suatu sekolah yang anak2nya diajarkan untuk naik sepeda ke sekolah.Katanya anak2 sekolah itu dibikin rombongan2 dari masing2 daerah yang nantinya akan diberikan seorang pendamping untuk masing-masing rombongan itu, karena kan naik sepeda untuk anak kecil, melintas jalan raya menuju sekolah kan berbahaya. Katanya program ini akan mengurangi jumlah emisi(well, kan anak kecil

Dari cerita ini, yang menurut saya sangat manis, (karena kalo saya membayangkan serombongan anak kecil berumur 6-7 tahun naik sepeda bersama-sama itu sangat manis)saya malah jadi agak kepikiran soal keselamatan si anak2 ini(membayangkan di masa depan anak saya jadi bagian dari rombongan bunuh diri ini). Kan selama ini para orang tua menganggap bahwa naik sepeda itu termasuk bagian dari pendidikan yang wajib diberikan untuk anak kan, padahal kan sebenernya naik sepeda itu bahaya. Sekarang bayangin aja si anak kecil ini naik sepeda ngelintasin jalan Dago. Berasa kaya kalo gak ada yang ngawasin si anak bisa tiba2 ketabrak mobil gak si?

Bener2 deh ya. Menurut saya, (setelah saya pikirin matang2 tanpa subjektifitas akibat ketidak mampuan saya naik sepeda) naik sepeda itu berbahaya. Harusnya seorang anak memiliki batasan umur untuk mengendarai sepeda di jalan raya. Misalnya sekarang dibikinlah sebuah SIM D gitu, dimana salah satu syarat kepemilikan SIM D seseorang harus minimal berumur 10 tahun. Sebelum Umur ini anak hanya boleh naik sepeda di dalam lingkungan non-jalan, kecuali ada pengawasan ketat dari seorang orang tua. Apabila dilanggar aparat berwenang boleh menilang (dimana dalam penilangan ini gak mungkin terjadi korupsi, karena anak kecil gak mungkin punya uang buat nyuap polisi).

Serius deh, kenapa gak ada SIM D untuk pengendara sepeda? Padahal itu bahaya lo.

Kalo kata temen saya, ibu Mira Vitania, itu karena pengendara sepeda sebaha-bahayanya hanya membahayakan diri sendiri, karena limit kecepatan yang bisa dia capai sangat terbatas. Jadi saat ada pengendara sepeda yang ugal-ugalan, efek yang terjadi hanya akan dirasakan oleh si pengendara itu sendiri. Trus sekarang pertanyaan saya, apa kalo yang terluka Cuma satu itu berarti itu less-meaningfull ya? Bukanya walopun hanya satu yang terluka, tapi kita tetep mesti kasih batasan2 ya, biar loss itu gak terjadi? Apalagi kalo itu udah menyangkut anak2, bukannya mereka justru mesti lebih lagi dilindungi ya?

Saya terus menarik lebih lanjut. Misalnya pengadan SIM D ini tidak mau diadakan karena tidak mungkin, harusnya kan kita wajib menyediakan environment yang aman untuk pengendara sepeda. Gak mutu dong kalo udah mau memaksa orang untuk ikut tanggung jawab terhadap emisi dunia (yang notabene bukan tanggung jawab dia semata) tanpa memberikan orang fasilitas jalan untuk sepeda. Boro-boro omongin sepeda deh, sekarang saya tanya. Kalo mau jalan dari depan boromeus aja sampai unpad(untuk mengurangi emisi ni), ada gak si trotoarnya?

OK sepeda bisa jalan di jalan raya bersama2 mobil yang lain, tapi saya tanya de, andaikan pengendara sepedanya anak kecil yang mukanya masih Oon dan lugu, gak punya beban hidup, pikirannya Cuma main doang, bisanya cengar-cengir aja, apa gak hawatir anda-anda semua pada keselamatan mereka?

Kesimpulan: mari canangkan SIM D khusus sepeda