sebelumnya maaf ya telah mencemari blog kita tercinta ini.



I got wrong about him. Really wrong.



Kesan pertama itu penting.

Dan itu yang dulu gue percaya. Pernah ga gue percaya. Dan sekarang gue ga tahu harus percaya atau ga.

Dulu, gue percaya ama perasaan gue. Semuanya gue lakukan dengan perasaan. Hingga suatu waktu perasaan itu menghillang. Bersama sakit panjang. Dan gue ga tahu apa yang harus dilakukan.

Perasaan itu kembali, namun tak lagi utuh seperti sebelumnya. Dan tak sekuat sebelumnya.

Aku pun belajar untuk berpikir. Berpikir tentang hidup. Berpikir tentang apa yang aku lakukan dan apa yang akan aku lakukan. Aku mencoba berpikir seperti orang-orang yang berpikir.

Aku berpikir dengan berlogika. Padahal saat sekolah dulu nilai logika ku pada pelajaran matematika tidak pernah baik, hanya cukup. Dan itulah yang membuatku salah menilainya. Menilai orang-orang.

Aku ingin perasaan itu kembali. Seutuh dan sekuat sebelumnya. Sehingga aku tidak perlu berpikir seperti orang-orang dewasa itu.

Kemana rasa itu pergi?

Aku tak lagi lari seperti dulu. Tapi aku mendapati diriku tengah bersembunyi di keramaian. Menyibukan diri dengan hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang tidak kuminati. Aku tidak tahu, mengapa kulakukan semua itu?

Aku percaya. Berusaha untuk tetap percaya. Bahwa apa pun yang aku lakukan, aku putuskan, adalah yang terbaik yang seharusnya terjadi.

Aku mencoba berhenti melihat mereka, memandang mereka, menyentuh mereka, di belakangku. Tapi yang ada dihadapanku membuatku ingin menutup mata, telinga, dan seluruh tubuhku.

Aku ingin lari. Lari jauh ke belakang. Mengejar rasaku.

Aku tak ingin berlogika. Aku tak ingin berpikir. Aku hanya ingin percaya pada perasaanku.

Dia tidak salah. Aku lah yang salah menilainya. Tidak. Bukan penilaianku yang salah.

Aku salah melihat dia. Salah berpikir tentang dia. Salah membaca dia.

Aku salah tentang dia.

Hanya itu.



buat semua lelaki yang pernah gue kenal.

_wiD